Derap
sepatu kesayangannya sering kali mengiringi langkahnya di koridor kelas.
Matanya yang seperti hazelnut menatap
tajam ke seluruh penjuru lapangan. Peluh yang turun dari dahinya menembus
rambut hitam bergelombang yang Beliau miliki. Badannya yang tegap dengan tinggi
sekitar 168 cm dan berat badan 75 kg membuatnya lebih gagah dan bugar di
hadapan para murid. Kaus olahraga dan celana training yang senantiasa melekat di tubuhnya cocok dengan kulitnya
yang hitam manis. Beliau adalah seseorang yang sangat menghargai waktu. Tak
ayal, Beliau selalu mengenakan arloji di tangannya. Gelang dan kalung yang
Beliau gunakan menambah lengkap penampilannya yang sporty.
Pemilik
nama lengkap Lambertus Leo Sergio Batista Sili, S.Pd. ini lahir di Pontianak,
28 Juni 1987. Penggemar warna black and white itu kini mengajar
sebagai salah satu guru di SMA Kristen Kanaan. Tepatnya sebagai guru olahraga.
Beliau berhasil menamatkan kuliahnya di Universitas Negeri Jakarta. Meskipun
lahir di Pulau Kalimantan, pria yang satu ini ternyata memiliki darah keturunan
Flores. Beliau
menjalani pendidikan dasar hingga menengah pertama di Sekolah Katholik
Suster yang berada di Pontianak. Ketika hendak melanjutkan studinya, Beliau
mengaku sempat mengalami beberapa kendala.
Hal
itu menjadi pengalaman yang pahit namun patut disyukuri hingga saat ini. Beliau
hendak melanjutkan pendidikannya dari menengah pertama ke Sekolah Olahraga di bilangan
Ragunan. Karena Beliau menyadari minatnya yang begitu besar di bidang Olahraga
serta mimpinya untuk menjadi pemain sepak bola. Akan tetapi, ternyata harapan
juga butuh kenyataan.
Beliau
tidak dapat memasuki Sekolah Olahraga tersebut. Harapan Beliau tidak dapat
terpenuhi ketika Beliau sudah jauh-jauh merantau ke Jakarta. Namun, Tuhan
memang sayang umat-Nya. Bagaikan malaikat, Beliau bertemu dengan Rony
Patinasarani. Rony adalah seseorang yang cukup berjasa saat itu. Tatkala Rony
merupakan mantan pemain Timnas, Rony menyarankan agar Beliau bergabung dengan
Klub Persib Bandung. Lantas, ditolaknya tawaran tersebut. Karena Beliau mulai
menyadari bahwa di
Bandung,
Beliau mungkin hanya sebatang kara dan tidak memiliki tempat tinggal.
Akhirnya
Beliau bergabung dalam Klub Persita Tangerang. Dimana Beliau dapat tinggal
bersama Tantenya dan Beliau juga bisa sambil menempuh SMA di Kanaan Tangerang.
Beliau mengaku pernah salah jurusan ketika kuliah. Beliau mengambil jurusan
Geografi selama 1 tahun karena merasa tidak cocok, Beliau masuk ke jurusan
akademik Olahraga bagian keguruan.
Baginya
menjadi guru olahraga penuh dengan suka dan duka. Sukanya apabila para murid
bisa kooperatif juga karena beliau
memang terbiasa berada di lapangan daripada di kelas. Tapi, Beliau juga sangat
kecewa apabila ada anak murid yang melanggar tata tertib yang sudah disepakati
bersama.
Dari
perjalanan hidupnya itu, Beliau telah banyak menerima pengalaman-pengalaman.
Beliau menikmati dan mengambil hikmahnya serta mensyukurinya. Bagi Pria yang
sangat menyukai traveling dan snorkeling ini, yang terpenting adalah bekerja
keras. “IMPOSSIBLE IS NOTHING”, katanya ketika ditanya tentang moto hidup seraya
mengakhiri wawancara. (Eskul
Jurnalis/Novita)
0 Response to "Singa Hitam Selalu Berlari"
Tinggalkan Kesanmu di sini