REFLEKSI TENTANG PAHLAWAN: PESAN ZAMAN TERHADAP ANAK BANGSA

Posted by Kuncup Kaka on Kamis, 18 Februari 2016

“pahlawan /pah·la·wan/ n orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dulu membela kebenaran; pejuang yang gagah berani; sedangkankepahlawanan /ke·pah·la·wan·an/ n perihal sifat pahlawan (seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan).”Begitulah definisi pahlawan yang dikutip dari KBBI. Seperti yang bisa kita lihat, dan memang, hal yang melintas di pikiran kita ketika kita mendengar kata “pahlawan” biasanya berhubungan dengan seorang pejuang yang gagah  berani.
Siapa saja yang bisa tergolong pahlawan? Apakah Superman, Batman, Spiderman, dan superhero lainnya yang biasa kita lihat di film-film adalah definisi pahlawan kita? Ataukah yang melintas di pikiran kita adalah pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada masa Indonesia dijajah? Atau mungkin, kita akan mencoba untuk think outside the box” dan membayangkan orang-orang yang pekerjaannya di bidang kemanusiaan yang mempertaruhkan nyawa mereka setiap saat?
    ‘Ya ampun, ini lagi? Jangan bilang, tulisan panjang di atas tadi ujung-ujungnya juga menjadi sebuah himbauan supaya kita menghormati para pahlawan yang telah berjuang untuk kita dengan cara mengisi masa muda dengan kegiatan yang berguna. Paling ini berhubungan dengan Hari Pahlawan yang tanggal 10  November kemarin.’ Sepertinya, pikiran itu yang sekarang melintas di pikiran kita. Bukan rahasia umum lagi, kalau rasa nasionalisme kita saat ini dibilang cukup rendah sebagai generasi pengurus bangsa. Berapa banyak dari kita yang tahu kalau 10 November kemarin adalah hari Pahlawan? Memang, kita sering kali diberitahu dan diperintahkan untuk menghormati jasa para pahlawan. Tapi kenyataannya, dari diri kita sendiri, tidak muncul kesadaran untuk melakukan hal itu dengan tulus. Contohnya saja, begitu kita mendengar pengunguman bahwa hari Senin akan diadakan upacara bendera, pasti kita akan langsung mengeluh dan menggerutu, ‘kenapa harus upacara segala sih?’dan diyakini bahwa saat mengheningkan cipta untuk mengenang jasa pahlawan, sebagian dari kita akan berpikir, ‘yaelah, matinya sudah lama masih dikenang-kenang saja. Buat apa? Toh, namanya sudah masuk sejarah, mereka juga tidak akan tahu kita mengheningkan cipta atau tidak. Arwah mereka tidak akan gentayangan, kan?’
    Rasanya, kalau dipikir-pikir, memupuk rasa nasionalisme anak muda sekarang yang termasuk apatis itu bisa dibilang seperti menantikan kucing bertanduk. Sedikit sekali dari kita yang memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara. Oke, kesampingkan bahasan tentang pahlawan pada masa peperangan dulu. Berdiam dirilah sebentar. Coba kita pikirkan, pahlawan apalagi yang ada di sekitar kita, orang-orang yang memiliki sifat pahlawan yang dideskripsikan di kutipan di atas?
    Sebenarnya, jawabannya sederhana. Apa ada dari kita yang memikirkan tentang orang tua kita? Kalau ada, bagus. Tapi kalau tidak ada, berarti generasi muda sekarang lebih kacau daripada yang diperkirakan. Dengan segala hormat, dan tanpa ada maksud untuk mencari ribut, kalau ada dari antara kita yang tidak menganggap orang tua kita sebagai pahlawan, maka orang-orang tersebut adalah anak tidak tahu diri yang isi hatinya perlu dipertanyakan.
    Ini bukan uraian soal ulangan agama, tentunya. Seharusnya, kita sudah tidak perlu didikte untuk bisa menghormati orang tua kita. Tapi sekali lagi, kita masih dalam masa-masa pembangkang, dimana kita selalu menganggap orang tua kita hanya pengganggu. Orang tua kita itu hanya orang-orang yang sudah tua yang tinggal bersama kita, yang harus dihormati karena mereka lebih tua dan lebih berkuasa dari kita, yang tidak mengerti apa-apa tentang kemauan dan kebutuhan kita, yang hanya bisa membuka mulut dan berteriak-teriak tanpa arti pada kita.
Apakah itu yang kita pikirkan tentang orang tua kita?
Di luar, kita bisa memalsukan perasaan itu pada orang tua kita, apalagi saat ada maunya. Tapi, sekarang kita tidak perlu bermunafik ria. Akui saja dalam hati. Apa kita berpikiran seperti itu?
Mayoritas dari kita pasti akan menjawab “iya.”
Coba bayangkan hal ini. Kurang lebih 10 tahun lagi, kita akan menikah dengan orang yang kita yakini adalah pasangan hidup kita. 2 tahun kemudian, kita (bagi kaum hawa) akan mengandung, atau istri kita (bagi pria) akan mengandung. Setelah 9 bulan perjuangan dari kedua belah pihak, tiba-tiba pada suatu malam, air ketuban kita/istri kita pecah! Kita dan pasangan kita dengan tergesa-gesa langsung pergi menuju rumah sakit. Setelah perjuangan yang sangat menyakitkan dari kita/istri kita, anak kita akhirnya lahir sehat walafiat. Saat kita dan pasangan kita sedang memperhatikan wajah anak kita, kita mulai memikirkan harapan-harapan kita untuk anak kita, dan bagaimana kita akan memberikan hal-hal terbaik untuk anak kita.
 Tak disangka-sangka, 1 tahun setelah kelahiran anak kita, Negara kita kembali dilanda krisis ekonomi besar-besaran. Kita/suami kita di PHK, dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kita harus menghemat semaksimal mungkin. Tapi tiba-tiba, kita teringat komitmen kita untuk memberikan yang terbaik untuk anak kita. Sambil menahan malu, kita meminjam uang kerabat dan teman-teman kita. Tapi ternyata, uang itu pun tidak cukup karena harga susu formula dan makanan bayi melonjak tinggi. Setiap hari, kita dan pasangan kita hanya makan seadanya, supaya uang yang kita pinjam bisa mencukupi kebutuhan bayi kita. Apalagi, uang pangkal untuk masuk TK anak kita 2-3 tahun lagi pasti akan sangat mahal. Lalu, karena makanan yang kita makan termasuk seadanya, kita terserang magh akut. Pada saat bersamaan, anak kita sakit demam. Kita pun mengalah supaya anak kita bisa berobat. Berhari-hari kita menahan sakit dengan bantuan obat umum yang dijual murah, sambil menemani anak kita yang sering mengigau karena panasnya yang sangat tinggi. Sambil menggenggam tangan mungil anak kita, kita berpikir, “bertahanlah, Nak, kita bisa melewati ini semua. Berikan saja semua rasa sakitmu pada ibu/ayah.”
Akhirnya, krisis ekonomi pun terlalui. Keluarga kita mulai pulih dari keterpurukan finansialnya. Kita/suami kita menemukan pekerjaan tetap dengan gaji lumayan, dan sedang mulai membayar hutang-hutangnya. Saat itu, anak kita sudah masuk Sekolah Dasar. Sambil melihat anak kita yang berlari-lari menjinjing tas sekolahnya, kita memikirkan bagaimana waktu berjalan dengan sangat cepat. 4-5 tahun lagi, anak kita akan masuk SMP. Di mata kita, anak kita adalah anak terbaik yang bisa kita miliki, walaupun memiliki kenakalannya sendiri. Anak kita tidak mau makan sayur kalau tidak dipaksa! Tapi tidak apa, selama anak kita masih sehat, kita bisa menoleransinya sedikit.
Begitu anak kita memasuki SMP, masa-masa yang kita takutkan sekaligus kita tunggu-tunggu pun datang. Anak kita tumbuh dengan sehat dan sangat elok. Tapi, ia mulai melawan kita. Begitu pulang sekolah, anak kita langsung masuk rumah tanpa menyapa, membuka sepatu lalu melemparnya, masuk ke kamarnya, membanting pintu, lalu baru keluar saat makan siang, itupun langsung masuk kamar lagi. Begitu ditanya ada apa, anak kita malah membentak kita. Lalu, saat kita mandi, telepon genggam anak kita berdering. Karena penasaran, kita membuka telepon genggam anak kita, dan ternyata ada satu SMS masuk. Begitu kita buka, ternyata isinya adalah dari teman karib anak kita. Ternyata, anak kita sedang curhat pada temannya tentang bagaimana dia membenci kita dan isi SMS itu adalah maki-makian untuk kita. Hati kita hancur saat membaca SMS itu. Begitu anak kita keluar dari kamar mandi, kita langsung menanyakan apa maksudnya menulis SMS seperti itu. Tapi bukannya merasa bersalah, anak kita malah tambah marah. Akhirnya kita dan anak kita bertengkar hebat hari itu. Kita dan anak kita tidak berbicara lagi selama 1 bulan. Setelah itupun, hubungan kita dan anak kita menjadi canggung.
SMA pun tiba, dan kelakuan anak kita semakin menjadi-jadi. Nilai sekolahnya makin turun, walaupun dia sudah diberi les pelajaran yang biayanya tidak sedikit. Ia jadi sering keluar malam sekarang. Kita dan pasangan kita sudah tidak bisa mengontrol kelakuan dan pergaulannya. Telepon genggamnya sekarang diberi kata sandi, sehingga kita tidak bisa mengecek telepon genggamnya lagi. Suatu sore, saat kita sedang melewati kamar anak kita, kita mendengar anak kita tertawa terbahak-bahak. Ternyata, ia sedang menelepon teman karibnya. Sayup-sayup kita mendengar perkataannya, “ia tuh, gue benci banget sama bokap nyokap gue. Meningan mereka mati aja cepetan, uda muak gue liat muka mereka.”
Bagaimana perasaan kita sebagai orang tua? Sedih? Marah? Kecewa? Gagal dalam mendidik anak?
Itulah yang dirasakan orang tua kita. Bedanya, kita hanya membayangkan, tapi orang tua kita sudah merasakannya.

0 Response to "REFLEKSI TENTANG PAHLAWAN: PESAN ZAMAN TERHADAP ANAK BANGSA"

Tinggalkan Kesanmu di sini