“pahlawan /pah·la·wan/ n orang yang menonjol karena keberanian dan
pengorbanannya dulu membela kebenaran; pejuang yang gagah berani; sedangkankepahlawanan /ke·pah·la·wan·an/ n perihal
sifat pahlawan (seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan
kekesatriaan).”Begitulah definisi pahlawan yang dikutip dari
KBBI. Seperti yang bisa kita lihat, dan memang, hal yang melintas di pikiran
kita ketika kita mendengar kata “pahlawan” biasanya berhubungan dengan seorang
pejuang yang gagah berani.
Siapa saja yang bisa
tergolong pahlawan? Apakah Superman, Batman, Spiderman, dan superhero lainnya
yang biasa kita lihat di film-film adalah definisi pahlawan kita? Ataukah yang
melintas di pikiran kita adalah pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan
Indonesia pada masa Indonesia dijajah? Atau mungkin, kita akan mencoba untuk “think
outside the box” dan membayangkan orang-orang yang pekerjaannya di bidang
kemanusiaan yang mempertaruhkan nyawa mereka setiap saat?
‘Ya ampun, ini lagi? Jangan bilang,
tulisan panjang di atas tadi ujung-ujungnya juga menjadi sebuah himbauan supaya
kita menghormati para pahlawan yang telah berjuang untuk kita dengan cara
mengisi masa muda dengan kegiatan yang berguna. Paling ini berhubungan dengan
Hari Pahlawan yang tanggal 10 November kemarin.’ Sepertinya,
pikiran itu yang sekarang melintas di pikiran kita. Bukan rahasia umum lagi,
kalau rasa nasionalisme kita saat ini dibilang cukup rendah sebagai generasi
pengurus bangsa. Berapa banyak dari kita yang tahu kalau 10 November kemarin
adalah hari Pahlawan? Memang, kita sering kali diberitahu dan diperintahkan untuk
menghormati jasa para pahlawan. Tapi kenyataannya, dari diri kita sendiri,
tidak muncul kesadaran untuk melakukan hal itu dengan tulus. Contohnya saja,
begitu kita mendengar pengunguman bahwa hari Senin akan diadakan upacara
bendera, pasti kita akan langsung mengeluh dan menggerutu, ‘kenapa
harus upacara segala sih?’dan diyakini bahwa saat mengheningkan cipta untuk
mengenang jasa pahlawan, sebagian dari kita akan berpikir, ‘yaelah,
matinya sudah lama masih dikenang-kenang saja. Buat apa? Toh, namanya sudah
masuk sejarah, mereka juga tidak akan tahu kita mengheningkan cipta atau tidak.
Arwah mereka tidak akan gentayangan, kan?’
Rasanya, kalau dipikir-pikir, memupuk
rasa nasionalisme anak muda sekarang yang termasuk apatis itu bisa dibilang
seperti menantikan kucing bertanduk. Sedikit sekali dari kita yang memiliki
kesadaran berbangsa dan bernegara. Oke, kesampingkan bahasan tentang pahlawan
pada masa peperangan dulu. Berdiam dirilah sebentar. Coba kita pikirkan,
pahlawan apalagi yang ada di sekitar kita, orang-orang yang memiliki sifat
pahlawan yang dideskripsikan di kutipan di atas?
Sebenarnya, jawabannya sederhana. Apa
ada dari kita yang memikirkan tentang orang tua kita? Kalau ada, bagus. Tapi
kalau tidak ada, berarti generasi muda sekarang lebih kacau daripada yang
diperkirakan. Dengan segala hormat, dan tanpa ada maksud untuk mencari ribut,
kalau ada dari antara kita yang tidak menganggap orang tua kita sebagai
pahlawan, maka orang-orang tersebut adalah anak tidak tahu diri yang isi
hatinya perlu dipertanyakan.
Ini bukan uraian soal ulangan agama,
tentunya. Seharusnya, kita sudah tidak perlu didikte untuk bisa menghormati
orang tua kita. Tapi sekali lagi, kita masih dalam masa-masa pembangkang,
dimana kita selalu menganggap orang tua kita hanya pengganggu. Orang tua kita
itu hanya orang-orang yang sudah tua yang tinggal bersama kita, yang harus
dihormati karena mereka lebih tua dan lebih berkuasa dari kita, yang tidak
mengerti apa-apa tentang kemauan dan kebutuhan kita, yang hanya bisa membuka
mulut dan berteriak-teriak tanpa arti pada kita.
Apakah itu yang kita pikirkan tentang orang tua kita?
Di luar, kita bisa memalsukan perasaan itu pada orang tua
kita, apalagi saat ada maunya. Tapi, sekarang kita tidak perlu bermunafik ria.
Akui saja dalam hati. Apa kita berpikiran seperti itu?
Mayoritas dari kita pasti akan menjawab “iya.”
Coba bayangkan hal ini. Kurang lebih 10 tahun lagi, kita
akan menikah dengan orang yang kita yakini adalah pasangan hidup kita. 2 tahun
kemudian, kita (bagi kaum hawa) akan mengandung, atau istri kita (bagi pria)
akan mengandung. Setelah 9 bulan perjuangan dari kedua belah pihak, tiba-tiba
pada suatu malam, air ketuban kita/istri kita pecah! Kita dan pasangan kita
dengan tergesa-gesa langsung pergi menuju rumah sakit. Setelah perjuangan yang
sangat menyakitkan dari kita/istri kita, anak kita akhirnya lahir sehat
walafiat. Saat kita dan pasangan kita sedang memperhatikan wajah anak kita,
kita mulai memikirkan harapan-harapan kita untuk anak kita, dan bagaimana kita
akan memberikan hal-hal terbaik untuk anak kita.
Tak disangka-sangka, 1 tahun setelah kelahiran anak
kita, Negara kita kembali dilanda krisis ekonomi besar-besaran. Kita/suami kita
di PHK, dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kita harus menghemat
semaksimal mungkin. Tapi tiba-tiba, kita teringat komitmen kita untuk
memberikan yang terbaik untuk anak kita. Sambil menahan malu, kita meminjam
uang kerabat dan teman-teman kita. Tapi ternyata, uang itu pun tidak cukup
karena harga susu formula dan makanan bayi melonjak tinggi. Setiap hari, kita
dan pasangan kita hanya makan seadanya, supaya uang yang kita pinjam bisa
mencukupi kebutuhan bayi kita. Apalagi, uang pangkal untuk masuk TK anak kita
2-3 tahun lagi pasti akan sangat mahal. Lalu, karena makanan yang kita makan
termasuk seadanya, kita terserang magh akut. Pada saat bersamaan, anak kita
sakit demam. Kita pun mengalah supaya anak kita bisa berobat. Berhari-hari kita
menahan sakit dengan bantuan obat umum yang dijual murah, sambil menemani anak
kita yang sering mengigau karena panasnya yang sangat tinggi. Sambil
menggenggam tangan mungil anak kita, kita berpikir, “bertahanlah, Nak, kita
bisa melewati ini semua. Berikan saja semua rasa sakitmu pada ibu/ayah.”
Akhirnya, krisis ekonomi pun terlalui. Keluarga kita
mulai pulih dari keterpurukan finansialnya. Kita/suami kita menemukan pekerjaan
tetap dengan gaji lumayan, dan sedang mulai membayar hutang-hutangnya. Saat
itu, anak kita sudah masuk Sekolah Dasar. Sambil melihat anak kita yang
berlari-lari menjinjing tas sekolahnya, kita memikirkan bagaimana waktu
berjalan dengan sangat cepat. 4-5 tahun lagi, anak kita akan masuk SMP. Di mata
kita, anak kita adalah anak terbaik yang bisa kita miliki, walaupun memiliki
kenakalannya sendiri. Anak kita tidak mau makan sayur kalau tidak dipaksa! Tapi
tidak apa, selama anak kita masih sehat, kita bisa menoleransinya sedikit.
Begitu anak kita memasuki SMP, masa-masa yang kita
takutkan sekaligus kita tunggu-tunggu pun datang. Anak kita tumbuh dengan sehat
dan sangat elok. Tapi, ia mulai melawan kita. Begitu pulang sekolah, anak kita
langsung masuk rumah tanpa menyapa, membuka sepatu lalu melemparnya, masuk ke
kamarnya, membanting pintu, lalu baru keluar saat makan siang, itupun langsung
masuk kamar lagi. Begitu ditanya ada apa, anak kita malah membentak kita. Lalu,
saat kita mandi, telepon genggam anak kita berdering. Karena penasaran, kita
membuka telepon genggam anak kita, dan ternyata ada satu SMS masuk. Begitu kita
buka, ternyata isinya adalah dari teman karib anak kita. Ternyata, anak kita
sedang curhat pada temannya tentang bagaimana dia membenci kita dan isi SMS itu
adalah maki-makian untuk kita. Hati kita hancur saat membaca SMS itu. Begitu
anak kita keluar dari kamar mandi, kita langsung menanyakan apa maksudnya
menulis SMS seperti itu. Tapi bukannya merasa bersalah, anak kita malah tambah
marah. Akhirnya kita dan anak kita bertengkar hebat hari itu. Kita dan anak
kita tidak berbicara lagi selama 1 bulan. Setelah itupun, hubungan kita dan
anak kita menjadi canggung.
SMA pun tiba, dan kelakuan anak kita semakin
menjadi-jadi. Nilai sekolahnya makin turun, walaupun dia sudah diberi les
pelajaran yang biayanya tidak sedikit. Ia jadi sering keluar malam sekarang.
Kita dan pasangan kita sudah tidak bisa mengontrol kelakuan dan pergaulannya.
Telepon genggamnya sekarang diberi kata sandi, sehingga kita tidak bisa
mengecek telepon genggamnya lagi. Suatu sore, saat kita sedang melewati kamar
anak kita, kita mendengar anak kita tertawa terbahak-bahak. Ternyata, ia sedang
menelepon teman karibnya. Sayup-sayup kita mendengar perkataannya, “ia
tuh, gue benci banget sama bokap nyokap gue. Meningan mereka mati aja cepetan,
uda muak gue liat muka mereka.”
Bagaimana perasaan kita sebagai orang tua? Sedih? Marah?
Kecewa? Gagal dalam mendidik anak?
Itulah yang dirasakan orang tua kita. Bedanya, kita hanya
membayangkan, tapi orang tua kita sudah merasakannya.

0 Response to "REFLEKSI TENTANG PAHLAWAN: PESAN ZAMAN TERHADAP ANAK BANGSA"
Tinggalkan Kesanmu di sini