“Timur
bukanlah tanah yang dijanjikan, timur adalah tanah yang terus diberi janji dan
harapan yang tak pasti. Mereka tidak banyak meminta, hanya keadilan sebagaimana
mestinya”; merupakan pernyataan penutup Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa;
episode, Rabu, 17 Juni 2015 di Metro TV. Talk Show yang diberi judul MELIHAT KE
TIMUR tersebut, menghadirkan menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan
anak. Prof. Yambise, prof Yohanes Surya dan narasumber-narsumber lain yang
sangat menginspirasi. Melalui penuturan mereka kita bisa melihat persoalan
Indoneisa secara menyeluruh. Bukan hanya barat, tengah, tetapi Indonesia adalah
keseluruhan dari Aceh hingga ujung timur tanah Papua.
Secara
teori memang demikian; namun, prakteknya Indonesia hanya barat dan tengah.
Dilihat dari pembangunan nampak jelas ketimpangan itu, gedung-gedung pencakar
langit yang menghiasi ibu kota, pembangunan jalan trans Jawa Sumatra. Apakah
itu ada di ujung timur persada ini?. Kalaupun ada secuil pembangunan di sana,
maka sebelumnya mahasiswa dan masyarat sipil harus berdarah–darah dulu
menghadapi arogansi dari alat negara yang bernama TNI-Polri. Padahal mereka
tidak meminta lebih, hanya sewajarnya sebagai bagian dari Negara Indonesia yang
katanya berdaulat, adil dan makmur. Adil, berdaulat dan makmur hanyalah sebuah
kata tanpa makna; deretan kata-kata tersebut akan berarti bagi saudara-saudari
kita di timur negeri ini jika dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari.
Budi
susilo, seorang tokoh nasional yang hadir pada saat itu mengatakan melihat ke
timur, bagi orang yang mengerti dan tahu berarti melihat masa depan Indonesia.
Pernyataan tersebut benar adanya, dimana pembangunan kini yang berpusat di
Indonesia barat dan tengah secara perlahan telah terkikis sumber daya alamnya.
Sedangkan di timur, kekayaan alam Papua yang terbukti sejak zaman kemerdekaan
telah menghidupkan seluruh bangsa Indonesia.
Keindahan
raja ampat, “keperawanan” danau Habema dan danau Tigi di Paniai, eksotiknya
lukisan Asmat dan salju abadi di Puncak Jaya, fenomena penyu blimbing di Fef
Kabupaten Tambrauw serta kekayaan kuliner dan seni tradisional Papua yang
mempesona. Bukankah itu potensi yang dimiliki bangsa ini?. Belum lagi pesona
danau tiga warna di Ende flores NTT, Kamodo hewan purba yang mengundang tanya
dari para ilmuwan kelas dunia. Semantara itu, menyoal kemaritiaman pulau Maluku
dan sekitarnya tidak perlu diragukan lagi hasil lautnya. Ditambah jiwa
kemaritiman masyarakat Sulawesi yang sudah terbukti menjadi catatan sejarah
yang membanggakan.
Bukankah
ini semua pelengkap yang sempurna untuk mengindonesiakan Indonesia raya dari
timur persada ini. Jika ditimur ada yang terluka di barat harus juga merasa
duka. Itulah persatuan dalam jiwa dan perasaan, bukan pertikaian berembel-embel
persatuan. Kata Najwa Shihab, “timur adalah kita yang terjaga lebih dulu, timur
adalah Indonesia yang tak sabar menunggu”. Menunggu apa?. Menunggu janji
presiden terpilih Jokowidodo untuk membangun tol laut saat kampaye pilpres
lalu. Janji politik hingga blusukan di tanah Papua, telah mengantarkan
Jokowi-JK menjadi orang nomor 1 dan 2 di Indonesia; melalui kemenangan telak
96,780 suara di Jayapura dan persada bumi cenderawasih lain; Kemenangan besar
di 20 Kabupaten kota di NTT ditambah Makasar dan kepulauan Maluku adalah bukti
dari harapan dan kepercayaan rakyat yang sudah lama terlupakan oleh bangsa ini.
Kami menagih janjimu yang mulia.
Pada kabinet kerja kami berharap
adanya pemerataan pembangunan di timur, tengah dan barat. Selamat Ulang tahun
bapak Jokowidodo..(Catatan Waktu, Martin)

0 Response to "Melihat ke Timur"
Tinggalkan Kesanmu di sini