Melihat ke Timur

Posted by Kuncup Kaka on Jumat, 17 Februari 2017


“Timur bukanlah tanah yang dijanjikan, timur adalah tanah yang terus diberi janji dan harapan yang tak pasti. Mereka tidak banyak meminta, hanya keadilan sebagaimana mestinya”; merupakan pernyataan penutup Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa; episode, Rabu, 17 Juni 2015 di Metro TV. Talk Show yang diberi judul MELIHAT KE TIMUR tersebut, menghadirkan menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Prof. Yambise, prof Yohanes Surya dan narasumber-narsumber lain yang sangat menginspirasi. Melalui penuturan mereka kita bisa melihat persoalan Indoneisa secara menyeluruh. Bukan hanya barat, tengah, tetapi Indonesia adalah keseluruhan dari Aceh hingga ujung timur tanah Papua.
Secara teori memang demikian; namun, prakteknya Indonesia hanya barat dan tengah. Dilihat dari pembangunan nampak jelas ketimpangan itu, gedung-gedung pencakar langit yang menghiasi ibu kota, pembangunan jalan trans Jawa Sumatra. Apakah itu ada di ujung timur persada ini?. Kalaupun ada secuil pembangunan di sana, maka sebelumnya mahasiswa dan masyarat sipil harus berdarah–darah dulu menghadapi arogansi dari alat negara yang bernama TNI-Polri. Padahal mereka tidak meminta lebih, hanya sewajarnya sebagai bagian dari Negara Indonesia yang katanya berdaulat, adil dan makmur. Adil, berdaulat dan makmur hanyalah sebuah kata tanpa makna; deretan kata-kata tersebut akan berarti bagi saudara-saudari kita di timur negeri ini jika dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari.
Budi susilo, seorang tokoh nasional yang hadir pada saat itu mengatakan melihat ke timur, bagi orang yang mengerti dan tahu berarti melihat masa depan Indonesia. Pernyataan tersebut benar adanya, dimana pembangunan kini yang berpusat di Indonesia barat dan tengah secara perlahan telah terkikis sumber daya alamnya. Sedangkan di timur, kekayaan alam Papua yang terbukti sejak zaman kemerdekaan telah menghidupkan seluruh bangsa Indonesia.
Keindahan raja ampat, “keperawanan” danau Habema dan danau Tigi di Paniai, eksotiknya lukisan Asmat dan salju abadi di Puncak Jaya, fenomena penyu blimbing di Fef Kabupaten Tambrauw serta kekayaan kuliner dan seni tradisional Papua yang mempesona. Bukankah itu potensi yang dimiliki bangsa ini?. Belum lagi pesona danau tiga warna di Ende flores NTT, Kamodo hewan purba yang mengundang tanya dari para ilmuwan kelas dunia. Semantara itu, menyoal kemaritiaman pulau Maluku dan sekitarnya tidak perlu diragukan lagi hasil lautnya. Ditambah jiwa kemaritiman masyarakat Sulawesi yang sudah terbukti menjadi catatan sejarah yang membanggakan.
Bukankah ini semua pelengkap yang sempurna untuk mengindonesiakan Indonesia raya dari timur persada ini. Jika ditimur ada yang terluka di barat harus juga merasa duka. Itulah persatuan dalam jiwa dan perasaan, bukan pertikaian berembel-embel persatuan. Kata Najwa Shihab, “timur adalah kita yang terjaga lebih dulu, timur adalah Indonesia yang tak sabar menunggu”. Menunggu apa?. Menunggu janji presiden terpilih Jokowidodo untuk membangun tol laut saat kampaye pilpres lalu. Janji politik hingga blusukan di tanah Papua, telah mengantarkan Jokowi-JK menjadi orang nomor 1 dan 2 di Indonesia; melalui kemenangan telak 96,780 suara di Jayapura dan persada bumi cenderawasih lain; Kemenangan besar di 20 Kabupaten kota di NTT ditambah Makasar dan kepulauan Maluku adalah bukti dari harapan dan kepercayaan rakyat yang sudah lama terlupakan oleh bangsa ini. Kami menagih janjimu yang mulia.

Pada kabinet kerja kami berharap adanya pemerataan pembangunan di timur, tengah dan barat. Selamat Ulang tahun bapak Jokowidodo..(Catatan Waktu, Martin)

0 Response to "Melihat ke Timur"

Tinggalkan Kesanmu di sini