Zaman sekarang di kalangan
remaja pengunaan kata - kata baru makin kreatif dan inovatif, apalagi di ”sosial
media”. Kata - kata seperti “alay”, ”kepo”, ”sabi”, ”agut”, dan lain- lain semakin
marak digunakan. Salah satu kata yang sering digunakan adalah “baper”.
Baper, merupakan kata yang
biasanya diarahkan pada orang yang sedang dalam fase mengunakan perasaan dalam
menghadapi sesuatu hal. sesuai namanya ”bawa perasaan”. Contoh, Adam sedang
sedih lalu Ryan menyela ”lagi baper yaa?”. Kata baper seharusnya digunakan
seperti itu. Namun karena kekreatifan remaja milenium ini, kata ini sering
diplesetkan dan digunakan sebagai “prisai” dan penganti umum kata Maaf.
Beberapa contoh kasus yang
terjadi adalah si pengguna kata ”baper” ini membuat tersinggung si A, ia tahu
bahwa ia membuat si A terluka hatinya, bukannya meminta maaf, si A diejek ”baper”;
dan tentu akan membuat si A merasa lebih “baper” lagi. Lebih parah lagi ketika
kejadian ini diulang ulang, maka si A akan mendapatkan “Labeling” seperti
cengeng, baper, mudah tersinggung dan konotasi negatif yang lain.
Hal yang terjadi di atas
sudah jelas - jelas dinamakan ”bullying”; sedangkan dari pihak si pembully, akan
kebiasaan dan bertindak semena - mena, seperti ia bisa seenaknya mengejek dan
merendahkan orang. Saat ‘korban’ tersinggung, ia dengan mudah berkata ”ih baper
ya”.
Kejadian sebagaimana
diilustrasikan di atas semata - mata terlihat sepele dan tidak penting. Namun
hal kecil yang dibiarkan dapat menyebabnkan masalah yang lebih besar; seperti
pengucilan, pembulyan, dan akan menyebabkan lemahnya mental si anak tersebut
dan labelling ke diri sendiri. Jika hal seperti ini dibiarkan maka lama-lama ia
tidak akan percaya diri dan akhirnya akan berpengaruh ke masa depannya.
Apakah yang dapat
dilakukan untuk situasi tersebut?. Sebenarnya sederhana, dahulu ada pepatah
mengatakan, “engkau dapat mengusir burung gagak, yang hinggap di atas kepalamu”.
Terkadang ada saatnya kita harus “cuek” dalam menghadapi sesuatu, jangan
biarkan kata ”baper” tersebut hinggap di kepala kita, memang mungkin dia hanya
terbang di atas kepala kita, tetapi kita dapat dengan mudah membiarkanya saja, jangan
sampai perkataan orang hinggap di kepala kita terlalu lama. Saya menjamin kata
- kata tersebut pasti akan pergi. Banyak sekali hal hal yang kita tidak bisa
hindari, seperti yang kita bahas, kata “baper” tadi. Kita tidak bisa mengubah
jutaan orang Indonesia yang terus - menerus mengunakan kata ini, tetapi kita
dapat mengusirnya agar kata tersebut tidak ”hinggap” bahkan hingga bertelur di
kepala kita. Semoga fenomena bahasa gaul tidak mengkerdilkan mentalitas remaja
Indonesia sebagai penerus bangsa.

0 Response to "Penggunaan Kata Baper di Kalangan Remaja"
Tinggalkan Kesanmu di sini