Penggunaan Kata Baper di Kalangan Remaja

Posted by Kuncup Kaka on Senin, 03 April 2017

Zaman sekarang di kalangan remaja pengunaan kata - kata baru makin kreatif dan inovatif, apalagi di ”sosial media”. Kata - kata seperti “alay”, ”kepo”, ”sabi”, ”agut”, dan lain- lain semakin marak digunakan. Salah satu kata yang sering digunakan adalah “baper”.
Baper, merupakan kata yang biasanya diarahkan pada orang yang sedang dalam fase mengunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu hal. sesuai namanya ”bawa perasaan”. Contoh, Adam sedang sedih lalu Ryan menyela ”lagi baper yaa?”. Kata baper seharusnya digunakan seperti itu. Namun karena kekreatifan remaja milenium ini, kata ini sering diplesetkan dan digunakan sebagai “prisai” dan penganti umum kata Maaf.
Beberapa contoh kasus yang terjadi adalah si pengguna kata ”baper” ini membuat tersinggung si A, ia tahu bahwa ia membuat si A terluka hatinya, bukannya meminta maaf, si A diejek ”baper”; dan tentu akan membuat si A merasa lebih “baper” lagi. Lebih parah lagi ketika kejadian ini diulang ulang, maka si A akan mendapatkan “Labeling” seperti cengeng, baper, mudah tersinggung dan konotasi negatif yang lain.
Hal yang terjadi di atas sudah jelas - jelas dinamakan ”bullying”; sedangkan dari pihak si pembully, akan kebiasaan dan bertindak semena - mena, seperti ia bisa seenaknya mengejek dan merendahkan orang. Saat ‘korban’ tersinggung, ia dengan mudah berkata ”ih baper ya”.
Kejadian sebagaimana diilustrasikan di atas semata - mata terlihat sepele dan tidak penting. Namun hal kecil yang dibiarkan dapat menyebabnkan masalah yang lebih besar; seperti pengucilan, pembulyan, dan akan menyebabkan lemahnya mental si anak tersebut dan labelling ke diri sendiri. Jika hal seperti ini dibiarkan maka lama-lama ia tidak akan percaya diri dan akhirnya akan berpengaruh ke masa depannya.

Apakah yang dapat dilakukan untuk situasi tersebut?. Sebenarnya sederhana, dahulu ada pepatah mengatakan, “engkau dapat mengusir burung gagak, yang hinggap di atas kepalamu”. Terkadang ada saatnya kita harus “cuek” dalam menghadapi sesuatu, jangan biarkan kata ”baper” tersebut hinggap di kepala kita, memang mungkin dia hanya terbang di atas kepala kita, tetapi kita dapat dengan mudah membiarkanya saja, jangan sampai perkataan orang hinggap di kepala kita terlalu lama. Saya menjamin kata - kata tersebut pasti akan pergi. Banyak sekali hal hal yang kita tidak bisa hindari, seperti yang kita bahas, kata “baper” tadi. Kita tidak bisa mengubah jutaan orang Indonesia yang terus - menerus mengunakan kata ini, tetapi kita dapat mengusirnya agar kata tersebut tidak ”hinggap” bahkan hingga bertelur di kepala kita. Semoga fenomena bahasa gaul tidak mengkerdilkan mentalitas remaja Indonesia sebagai penerus bangsa.

0 Response to "Penggunaan Kata Baper di Kalangan Remaja"

Tinggalkan Kesanmu di sini